Solusi Masalah Senioritas


Beberapa dasawarsa silam, anak-anak yang menggunakan seraga sekolah selalu di identikan dengan kaum pelajar yang mempunyai ilmu dan akhlak yang tinggi. Sebuah kewajaran jika masyarakat selalu menaruh harapan pada pelajar-pelajar ini sebagai estafeta kehidupan yang semakin membaik. Namun, kini citra positif pelajar tersebut semakin memudar. Hal tersebut karena semakin banyaknya tindakan kekerasan di kalangan para pelajar.

Kita semua mengetahui bahwa. Hampir setiap hari, bulan dan tahun selalu saja ada berita tragis tentang kekerasan di kalangan para pelajar. Dimulai dari pencurian, pelecehan seksual, sampai dengan kasus Narkoba.

Istilah kekerasan di kalangan pelajar, sejak tahun 1970 lebih dikenal dengan istilah bullying. Seorang pelajar dikatakan sebagai korban bullying ketika ia diketahui secara berulang-ulang terkena tindakan negatif oleh satu atau lebih banyak pelajar lain. Tindakan negatif tersebut termasuk melukai, atau mencoba melukai atau membuat korban merasa tidak nyaman. Tindakan ini dapat dilakukan secara fisik (pemukulan, tendangan, mendorong, mencekik, dll), secara verbal (memanggil dengan nama buruk, mengancam, mengolok-olok, jahil, menyebarkan isu buruk, dll.) atau tindakan lain seperti memasang muka dan melakukan gerakan tubuh yang melecehkan (secara seksual) atau secara terus menerus mengasingkan korban dari kelompoknya.

Sepertinya, setiap pelajar pernah mengalami semua bentuk kekerasan di atas. Ada yang menjadi pelaku, korban atau paling tidak sebagai saksi. Bisa terjadi di sekolah maupun di luar sekolah; di sekolah umum, atau di pesantren. Bahkan, menurut pakar pendidikan, sekolah berasrama lebih rawan dalam hal tindak kekerasan. Kasus kekerasan di STPDN (kini IPDN) beberapa waktu yang lalu, membuktikan hipotesis tersebut. Berangkat dari hal tersebut inti dari permasalahan ini yaitu adalah dampak negatif senioritas. Perilaku senioritas tersebut berakibat fatal. Seolah-olah budaya senioritas yang terjadi memang suatu kewajiban yang harus diwariskan kepada junior-juniornya. 

Dari setiap masalah pasti selalu ada jalan atau solusinya. Termasuk dalam kasus senioritas ini. Untuk menghindari kasus senioritas, beberapa solusi untuk memutus mata rantainya senioritas dan junioritas dengan cara:

  1. Tidak diadakan lagi masa orientasi siswa yang bersifat kekerasan fisik maupun mental tetapi lebih kepada yang positif.
  2. Lebih diajarkan mengenai dampak senioritas dan junioritas.
  3. Senioritas harus memberi contoh yang baik kepada juniornya supaya para junior saat sudah menjadi senior juga berlaku demikian.
  4. Jangan pernah ada rasa dendam. Karena bila ada rasa dendam, rantai senioritas akan selalu berlanjut.
  5. Guru harus selalu mengawasi apa saja yang dilakukan senior.
  6. Memberi penyuluhan dan dampak – dampak dari senioritas di dalam kegiatan belajar mengajar.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *